Pendahuluan
Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari penjajah, tetapi hasil perjuangan panjang dan berdarah dari seluruh elemen bangsa. Salah satu kekuatan utama yang sering terlupakan dalam narasi sejarah adalah peran ulama dan santri. Mereka bukan hanya tokoh agama di balik mimbar, tetapi juga pemimpin rakyat, pemikir perjuangan, dan pejuang di medan perang.
1. Ulama Sebagai Pemimpin Perlawanan Fisik dan Spiritual
Banyak tokoh ulama turun langsung memimpin perlawanan terhadap penjajahan. Mereka tidak hanya memberikan fatwa jihad, tapi juga mengorganisir laskar-laskar rakyat, bahkan mengorbankan jiwa raga.
Contoh-contoh peran ulama:
- Teungku Chik di Tiro (Aceh): Mengobarkan jihad melawan Belanda dengan semangat Islam dan nasionalisme.
- KH Hasyim Asy’ari (Jombang): Pendiri NU yang mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang mendorong santri dan umat Islam wajib membela tanah air.
- KH Ahmad Dahlan (Yogyakarta): Pendiri Muhammadiyah yang berjuang melalui pendidikan dan modernisasi Islam.
- KH Zainal Mustafa, KH Mas Mansur, dan banyak lainnya yang turut ditangkap, dibunuh, atau diasingkan oleh penjajah karena semangat nasionalismenya.
2. Santri Sebagai Garda Terdepan di Medan Juang
Santri bukan hanya belajar kitab, tapi juga menjadi bagian dari kekuatan revolusioner Indonesia. Banyak laskar dan pejuang kemerdekaan terdiri dari para santri dan alumni pesantren yang siap berperang atas dasar keimanan dan kecintaan kepada tanah air.
Contoh kontribusi santri:
- Bergabung dalam laskar-laskar perjuangan seperti Laskar Hizbullah dan Sabilillah.
- Menjadi pasukan sukarela dalam pertempuran seperti Pertempuran Surabaya (10 November 1945).
- Menjadi penghubung dakwah dan semangat perjuangan di desa-desa melalui jaringan pesantren.
3. Islam dan Nasionalisme: Dua Pilar Tak Terpisahkan
Bagi ulama dan santri, membela tanah air adalah bagian dari ajaran agama. Konsep seperti:
- “Hubbul wathan minal iman” (Cinta tanah air adalah bagian dari iman)
- Jihad fi sabilillah yang dimaknai sebagai membela bangsa dari penjajahan
…menjadi dasar ideologis kuat yang mempersatukan umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan.
4. Resolusi Jihad: Titik Balik Sejarah
Tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyatakan bahwa:
“Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang mampu.”
Inilah yang menjadi pemicu semangat juang Arek-Arek Suroboyo dan para santri lainnya dalam pertempuran 10 November — yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
5. Warisan Ulama dan Santri untuk Indonesia
Kontribusi ulama dan santri tidak berhenti setelah proklamasi. Mereka terus berperan dalam:
- Menjaga moral bangsa
- Membangun sistem pendidikan nasional
- Menjadi tokoh politik dan pemikir kenegaraan
- Menjadi penyeimbang antara kekuasaan dan nilai-nilai spiritual
Penutup
Kemerdekaan Indonesia tidak mungkin diraih tanpa kontribusi nyata dari ulama dan santri. Oleh karena itu, pada setiap momentum 17 Agustus, penting bagi kita untuk mengenang, menghargai, dan melanjutkan perjuangan mereka, bukan dengan senjata, tapi dengan ilmu, akhlak, dan kontribusi nyata bagi bangsa dan agama.
“Jasamu wahai para ulama dan santri, terpatri abadi dalam sejarah negeri ini. Semangatmu tak akan padam, selama kami tetap menjaga Indonesia dengan cahaya iman dan ilmu.”